PERENCANAAN BALOK T KONVENSIONAL PADA SUPERSTRUKTUR JEMBATAN

  • Bagas Budiarto, dkk Universitas Fajar

Abstract

Jembatan balok T konvensional lebih efisien digunakan pada bentang 25 m atupun lebih karena memiliki keterbatasan terutama kemampuan dalam menahan besar lendutan baik jangka pendek maupun jangka panjang atau masa layaknya akibat beban ultimit dan panjang bentang.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui panjang bentang maksimum, gaya-gaya dalam, dan desain penulanganya perlu diteliti berdasarkan kriteria desain bina marga dimana lendutan maksimum tidak boleh melebihi 1/800 bentang balok dengan desain camber maksimum yang diperbolehkan adalah 150% dari lendutan akibat beban mati ditambah beban hidup, sedangkan pembebanan digunakan SNI 1725 – 2016, serta desain penulanganya digunakan pedoman SNI 2847 – 2013. Metode perhitungan lendutan, gaya-gaya dalam, dan desain penulangan menggunakan dua cara yaitu cara manual dengan menggunakan software microsoft office excel kemudian divalidasi kembali dengan menggunakan bantuan softwarestructural analysis program 2000 versi 19 agar hasil perhitunganya lebih terkontrol. Hasil perhitungan cara manual diperoleh bentang maksimum 30 m, momen ultimit rencana 8.818, 407 kN.m, gaya geser ultimit rencana 1.097,158 kN, dan luas tulangan 17.197,502 mm², sedangkan menggunakan software structural analysis 2000 diperoleh bentang maksimum 30 m, momen ultimit rencana 8.585,700 kN.m, gaya geser ultimit rencana 1.083,356 kN.m, dan luas tulangan 17.121,304 mm².

Published
Aug 5, 2020
How to Cite
DKK, Bagas Budiarto,. PERENCANAAN BALOK T KONVENSIONAL PADA SUPERSTRUKTUR JEMBATAN. Jurnal Aplikasi Teknik dan Sains, [S.l.], v. 2, n. 1, aug. 2020. ISSN 2685-7286. Available at: <https://journal.unifa.ac.id/index.php/JATS/article/view/210>. Date accessed: 29 july 2021.